Fri. Jan 16th, 2026

Topik diet itu aneh. Semakin dibahas, rasanya semakin bingung. Hari ini baca soal diet nasi, besok muncul diet karbo, lusa ada lagi diet yang sama sekali tak pakai sarapan.

Di tengah banyaknya informasi itu, kita sering bertanya hal sederhana, “Sebenarnya, saya harus makan apa sih supaya turun berat badan tanpa tersiksa?”

Banyak orang kemudian memilih dua hal ini, antara berhenti makan nasi atau sekalian menjalani diet rendah karbohidrat.

Keduanya sama-sama terdengar “keras”, dan sering muncul di obrolan teman kantor atau grup keluarga.

Ada yang bilang, “Aku sudah tidak makan nasi lagi, turun tiga kilo.” Ada juga yang membalas, “Aku potong karbo, turun lebih banyak.”

Lalu kita yang mendengar cuma manggut-manggut sambil bingung, iya nggak?

Supaya tidak hanya ikut-ikutan, mari bahas pelan-pelan. Santai saja, sambil bayangin piring makan sehari-hari kita.

Apa yang Dimaksud Diet Nasi?

Diet nasi secara sederhana berarti mengurangi atau bahkan tidak makan nasi sama sekali.

Di Indonesia, nasi itu seperti “pemeran utama” di meja makan. Tanpa nasi, sebagian orang merasa belum makan, meski sudah habis sepiring mie goreng atau roti.

Alasan orang meninggalkan nasi biasanya karena nasi putih termasuk karbohidrat sederhana. Tubuh mengolahnya dengan cepat, gula darah naik, lalu rasa lapar datang lebih cepat.

Itu sebabnya ada orang yang baru makan siang, tapi jam tiga sore sudah cari camilan.

Namun sebenarnya diet nasi bukan berarti tidak boleh karbohidrat sama sekali. Banyak orang mengganti nasi dengan nasi merah, kentang rebus, ubi, jagung, bahkan quinoa atau oats.

Beberapa penelitian gizi juga menyebut bahwa sumber karbohidrat yang lebih tinggi serat bisa membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.

Jadi, bukan nasinya yang salah sepenuhnya, tapi porsi dan jenisnya.

Kalau sudah tidak makan nasi, tapi minuman manis tetap jalan, ya hasilnya tahu sendiri, kan?!

Lalu, Diet Karbo itu Bagaimana?

Diet karbo langkahnya satu tingkat di atas diet nasi. Bukan cuma nasi yang dikurangi, tetapi hampir semua sumber karbohidrat. Termasuk mie, roti, kue, snack manis, bahkan beberapa buah tertentu.

Pada sebagian orang, diet ini berubah menjadi sangat ketat hingga masuk wilayah diet keto.

Di awal, memang banyak yang merasa berat badan turun cepat.

Tapi ada cerita lain yang sering muncul. Entah pusing, lemas, mudah marah, sampai badan rasanya “enteng tapi kosong”.

Beberapa penelitian kesehatan juga mencatat hal itu, terutama ketika diet rendah karbo dilakukan tanpa pengawasan tenaga profesional.

Tubuh kita terbiasa memakai karbohidrat sebagai energi sehari-hari. Tiba-tiba karbo dipangkas drastis, tentu butuh waktu beradaptasi.

Ada orang yang kuat menjalani, sebaliknya ada yang justru balik “balas dendam” makan lebih banyak setelahnya. Kamu mungkin pernah lihat, atau malah mengalami sendiri.

Mana yang Lebih Tepat?

Ini bagian yang sering membuat orang kecewa, karena jawabannya tidak sesederhana “A lebih baik dari B”.

Yang paling tepat adalah pola yang benar-benar bisa kamu jalani dalam keseharian. Bukan cuma seminggu, tapi berbulan-bulan.

Diet nasi biasanya terasa lebih realistis untuk kita yang sudah “akrab” dengan nasi sejak kecil. Mengurangi porsinya, atau mengganti sebagian dengan lauk tinggi protein dan sayuran, sering kali masih bisa dilakukan tanpa drama besar.

Diet karbo memang bisa efektif pada sebagian orang, terutama yang disiplin dan didampingi ahli gizi.

Namun, kalau dilakukan hanya karena ikut tren, risikonya cukup besar. Tubuh jadi lemah, kerja terganggu, kepala pening, dan akhirnya menyerah di tengah jalan.

Ujung-ujungnya malah bingung lagi, bukan begitu?

Lalu Sebaiknya Bagaimana?

Daripada terjebak pada istilah diet, ada baiknya kita kembali ke hal yang sederhana.

Mulai dari makan lebih pelan agar lebih merasakan kenyang, kurangi minuman manis dan camilan “iseng”, serta perbanyak sayur dan protein.

Tidak ketinggalan, tidur cukup dan tetap bergerak, meski hanya jalan kaki.

Banyak penelitian jangka panjang tentang pola hidup sehat mengarah ke hal-hal sederhana seperti ini. Berat badan turun pelan, tapi stabil.

Tubuh juga terasa lebih ringan tanpa harus merasa “berperang” dengan makanan setiap hari.

Kalau sesekali makan gorengan atau minum es teh manis, ya wajar saja. Hidup kan bukan soal hitung kalori terus menerus.

Yang penting, kita sadar dengan kebiasaan sehari-hari dan tidak berlebihan.

Kalau kamu ingin membaca lebih banyak soal resep, ide bekal, makanan sehat, dan berbagai obrolan seputar dapur dan makanan sehari-hari, mampir saja ke kitchenportrait.com. Silakan baca santai, siapa tahu ada inspirasi yang pas dengan kondisi kamu sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *