Kalau kamu tanya, “makanan Indonesia apa yang paling terkenal?”, kebanyakan orang mungkin langsung menyebut rendang, sate, atau nasi goreng.
Jawabannya hampir selalu itu-itu saja.
Jujur saja, Indonesia itu terlalu luas kalau cuma dirangkum dengan tiga atau empat makanan populer. Ada banyak sekali makanan tradisional lain yang dulu sempat akrab di lidah orang Indonesia, tapi sekarang mulai jarang ditemui.
Bahkan sebagian mungkin baru kamu dengar hari ini. Iya, nggak?
Sebagian makanan itu tidak kalah enak kok. Hanya saja, kalah pamor dengan makanan modern yang tampil cantik di media sosial.
Apalagi hidup sekarang serba cepat, orang maunya praktis. Siapa yang masih sempat membungkus kue dengan daun atau merebus singkong berjam-jam?
Nah, berikut ini 10 makanan tradisional yang nasibnya sudah jarang disapa, tapi sebenarnya punya cerita panjang. Bisa jadi, salah satunya adalah makanan masa kecilmu!
1. Clorot
Clorot berasal dari Jawa Tengah dan DIY. Bentuknya kecil memanjang dan dibungkus daun kelapa muda yang digulung seperti kerucut.
Isinya campuran tepung beras, santan, dan gula merah. Rasanya manis lembut, bukan manis yang bikin enek.
Dulu jajanan seperti ini gampang ditemui di pasar tradisional. Sekarang, pasar pun berubah. Banyak yang lebih memilih minuman boba, croffle, dan teman-temannya. Jadilah clorot makin jarang terlihat.
Sayang juga, padahal cara makannya seru, lho. Mesti ditekan dari bawah, lalu isinya keluar pelan-pelan.
2. Kue Rangi
Kue khas Betawi ini sebenarnya sederhana banget. Campuran kelapa parut dan tepung sagu dipanggang, lalu disiram saus gula merah kental. Camilan hangat yang cocok dimakan sore hari.
Masalahnya, pedagang kue rangi keliling makin langka. Generasi muda mungkin lebih kenal “martabak mini” dibanding kue rangi.
Kalau masih pernah mencicipinya, anggap saja kamu beruntung. Tidak semua anak sekarang punya kesempatan yang sama.
3. Jadah Tempe
Kalau pernah main ke Kaliurang, kamu pasti tak asing dengan jadah tempe. Kue dari ketan gurih yang disandingkan dengan tempe bacem manis.
Kelihatannya sederhana, tapi saat dimakan hangat di udara dingin, rasanya beda. Ada rasa “rumah” di situ, percaya deh.
Sayangnya, makanan ini sering dianggap kampungan. Tidak instagramable. Padahal belum tentu makanan yang tampilannya cantik itu lebih nikmat.
4. Kue Lumpur Surga
Namanya saja sudah puitis: kue lumpur surga. Kue khas Kalimantan Selatan ini berlapis dua, hijau di bawah dan putih di atasnya. Lembut, manis, serta wangi pandan.
Karena bikinnya butuh ketelatenan, orang jadi enggan mencoba. Sekarang lebih banyak orang memilih beli dessert cup modern. Praktis sih, tapi tetap saja, kue tradisional seperti ini perlahan tersisih.
5. Nasi Kentut
Tenang, namanya memang “ajaib”, tapi bukan berarti baunya aneh. Nasi kentut dari Medan ini dibungkus daun kentut, yang justru memberi aroma khas. Konon daunnya baik untuk pencernaan.
Sekarang, namanya jarang terdengar. Menunya kalah saing dengan rice bowl modern. Lucu juga ya, sesuatu yang sehat justru kadang kalah pamor dengan yang sekadar keren di foto.
6. Gogos
Gogos berasal dari Sulawesi Selatan. Sekilas mirip lemper, tapi dibakar sehingga aromanya smokey. Biasanya ada di acara adat.
Di luar itu? Jarang sekali. Banyak yang bahkan belum pernah mendengar namanya.
Indonesia luas sekali, tetapi makanan kita sering berhenti di satu kota saja.
7. Growol
Growol khas Kulon Progo dibuat dari singkong yang difermentasi. Rasanya agak asam dan teksturnya pun unik. Dulu, makanan ini penyelamat saat beras langka.
Kini, growol lebih banyak jadi cerita. Kita mendengarnya dari orang tua, bukan mencicipinya langsung. Kadang memang begitu, sih, yang sederhana justru cepat dilupakan.
8. Kaledo
Sup tulang sapi khas Palu ini punya rasa asam pedas yang segar. Daging di tulang bisa langsung digerogoti, bahkan sumsumnya disedot.
Kalau diceritakan begitu, terdengar ekstrem, ya?
Tapi justru itu yang bikin khas. Sayangnya, kaledo jarang keluar dari daerah asalnya. Banyak orang Indonesia tidak tahu bahwa makanan ini ada.
9. Gatot
Gatot dibuat dari singkong kering yang direndam lalu dimasak. Dulu identik banget dengan masa sulit. Sekarang malah dianggap unik dan “tradisional banget”.
Tetap saja, tidak banyak yang benar-benar membuatnya sendiri. Lebih banyak jadi simbol daripada makanan sehari-hari.
10. Tiwul
Masih dari singkong, tiwul dulu jadi pengganti nasi. Aromanya khas dan mengenyangkan. Zaman kini, tiwul kadang dijual sebagai “menu nostalgia”. Walaupun rasanya enak, tapi tetap saja bukan pilihan utama kebanyakan orang.
Kalau dipikir-pikir, makanan tradisional itu bukan cuma urusan perut. Ada cerita keluarga, sejarah daerah, sampai kenangan masa kecil yang ikut menempel.
Kalau kamu penasaran dengan resep masakan, makanan tradisional, atau sekadar mencari inspirasi menu harian, coba saja mampir ke kitchenportrait.com.
Siapa tahu ada satu resep yang membuatmu ingin turun ke dapur lagi dan mencoba menghidupkan kembali rasa yang hampir terlupakan.
